Senin, 04 November 2013

PERMAINAN  ANAK

(Kaulinan Barudak)

 
 Momobilan
      Kehidupan di perkotaan dengan pedesaan sangat kontras di antaranya bisa dilihat pada salah satu budaya tradisional permainan anak atau kaulinan barudak. Di kota, permainan anak pada umumnya sering kita jumpai seperti main bola, main sepeda, dan main game (PS). Kalaupun ingin melihat permainan anak hanya bisa dilihat di sekolah manakala sang anak sedang beristirahat, itu pun permainannya sangat terbatas.
        Beda lagi dengan anak-anak di pedesaan, mereka masih banyak waktu bermain dan berkumpul dengan sesama umurnya untuk bermain di lapangan, halaman rumah, teras rumah. Mereka bermain memanfaatkan waktu luang yaitu sore hari dan pada hari-hari libur seperti hari sabtu, minggu, dan hari-hari besar.
       Permainan anak (kaulinan barudak) dalam permainannya dibagi menjadi permainan perorangan dan beregu. Permainan perorangan adalah jenis permainan yang dilakukan perorangan atau perindividu. Jenis permainan ini tidak membutuhkan kerjasama dan kekompakan. Tapi yang dibutuhkan adalah keterampilan, keahlian, kecekatan, ketepatan, dan keakuratan. Sedangkan jenis permainan beregu sangat mengandalkan kerjasama, kekompakan, dan strategi. 
        Awal permainan biasanya dilakukan pemilihan siapa yang harus main duluan. Pemilihan dapat dilakukan dengan hompimpah, sut, atau dengan melemparkan koin. Permainan baru selesai apabila mereka sepakat untuk berhenti atau istirahat atau sudah mendapatkan pemenangnya.. 
       Karena permainan ini bersifat kolektif sehingga akan didapatkan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini, di antaranya adalah memupuk keterampilan, kebersamaan, gotong royong, kemandirian, sportivitas, kejujuran, keuletan, toleransi, tenggang rasa, berjiwa besar, dan tanggung jawab. Permainan anak ini selain menyenangkan juga menyehatkan dan menguatkan otot serta kesabaran dan tenggang rasa.
  
Bermain Layangan

Anak Perempuan sedang Maen Gambar


Minggu, 03 November 2013


PERMAINAN ANAK

(Kaulinan Barudak)


       Kehidupan di perkotaan dengan pedesaan sangat kontras di antaranya bisa dilihat pada salah satu budaya tradisional permainan anak atau kaulinan barudak. Di kota, permainan anak pada umumnya sering kita jumpai seperti main bola, main sepeda, dan main game (PS). Kalaupun ingin melihat permainan anak hanya bisa dilihat di sekolah manakala sang anak sedang beristirahat, itu pun permainannya sangat terbatas.
        Beda lagi dengan anak-anak di pedesaan, mereka masih banyak waktu bermain dan berkumpul dengan sesama umurnya untuk bermain di lapangan, halaman rumah, teras rumah. Mereka bermain memanfaatkan waktu luang yaitu sore hari dan pada hari-hari libur seperti hari sabtu, minggu, dan hari-hari besar.
       Permainan anak (kaulinan barudak) dalam permainannya dibagi menjadi permainan perorangan dan beregu. Permainan perorangan adalah jenis permainan yang dilakukan perorangan atau perindividu. Jenis permainan ini tidak membutuhkan kerjasama dan kekompakan. Tapi yang dibutuhkan adalah keterampilan, keahlian, kecekatan, ketepatan, dan keakuratan. Sedangkan jenis permainan beregu sangat mengandalkan kerjasama, kekompakan, dan strategi. 
        Awal permainan biasanya dilakukan pemilihan siapa yang harus main duluan. Pemilihan dapat dilakukan dengan hompimpah, sut, atau dengan melemparkan koin. Permainan baru selesai apabila mereka sepakat untuk berhenti atau istirahat atau sudah mendapatkan pemenangnya.. 
       Karena permainan ini bersifat kolektif sehingga akan didapatkan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini, di antaranya adalah memupuk keterampilan, kebersamaan, gotong royong, kemandirian, sportivitas, kejujuran, keuletan, toleransi, tenggang rasa, berjiwa besar, dan tanggung jawab. Permainan anak ini selain menyenangkan juga menyehatkan dan menguatkan otot serta kesabaran dan tenggang rasa.
 
Bermain Dampu Bintang
       Permainan dampu bintang biasanya dilakukan di atas tanah atau lantai. Permainan ini bersifat perorangan dan dapat dimainkan seorang diri atau lebih, bisa dua tiga empat lima dan sebagainya. Permainan ini dilakukan diatas bidang yang sudah digarisi. Bidangnya berupa kotak-kotak membentuk tanda plus (tambah) dan pada salah satu sudutnya ditarik garis kotak membentuk tangga.
         Permainannya diawali dengan pemilihan siapa yang pertama kali bermain yaitu dengan sut, hompimpah, atau koin. Sut dan koin dilakukan jika bermain hanya dua orang, sedangkan hompimpah dilakukan untuk menyeleksi pemain pertama, kedua, dan seterusnya, yang jumlah pemainnya lebih dari tiga orang.
          Untuk menentukan level atau branking pemain digunakan alat dari sepotong genting. Genting ini terus maju setiap pemain berhasil mengelilingi bidang permainan. Si pemain melempar genting terus loncat-lonat dengan kaki sebelah diangkat. Pemain yang paling jauh gentingnya dialah yang paling unggul, dan setelah genting berhasil dilempar sampai garis akhir, maka dialah pemenangnya.
          Pemain dampu bisa laki-laki atau perempuan, kadangkala pemainnya campuran, ada laki-laki dan adapula perempuannya.   
Asyiknya bermain Yoyo
       Permainan yoyo termasuk kedalam permainan jenis perorangan. Permainan ini bisa dilombakan atau hanya untuk melatih diri dan mengembangkan keterampilan. Kadang orang yang melihat permainan ini akan terkagum-kagum dengan keterampilan pemain yoyo saat memperlihatkan atraksinya. 
          Perlombaan permainan yoyo dibagi kedalam dua jenis yaitu permainan yoyo dengan memperlihatkan keterampilan memainkan alat yoyo dan permainan dengan mengadu siapa yang paling lama yoyonya berputar di bawah kemudian berhasil diangkat kembali dengan mulus.
            Permainan yoyo adalah permainan keterampilan tangan dengan melemparkan alat yoyo ke bawah, samping, depan, atas, dan belakang. Alat yoyo biasanya dibiarkan berputar-putar lama di bawah, ketika mau berhenti kemudian diangkat. Bial berhenti belum sempat diangkat berarti lasut atau dinyatakan mati.
Seorang Anak Sekolah sedang Bermain Yoyo
        Permainan yoyo bahan-bahannya terdiri atas bandul yoyo, benang, dan kulit pengikat. Bandul yoyo bentuknya bulat gepeng dan pada bagian sumbunya terbelah. Bangian terbelah ini berfungsi untuk mengikatkan tali. Benang merupakan bagian pengayun yang bersifat elastis, sedangkan bagian kulit berfungsi untuk mengikatkan pada bagian jari.



Kamis, 24 Oktober 2013

PERMAINAN  ANAK

(Kaulinan Barudak)

Anak-anak sedang Bermain Kukudaan
       Kehidupan di perkotaan dengan pedesaan sangat kontras di antaranya bisa dilihat pada salah satu budaya tradisional permainan anak atau kaulinan barudak. Di kota, permainan anak pada umumnya sering kita jumpai seperti main bola, main sepeda, dan main game (PS). Kalaupun ingin melihat permainan anak hanya bisa dilihat di sekolah manakala sang anak sedang beristirahat, itu pun permainannya sangat terbatas.
        Beda lagi dengan anak-anak di pedesaan, mereka masih banyak waktu bermain dan berkumpul dengan sesama umurnya untuk bermain di lapangan, halaman rumah, teras rumah. Mereka bermain memanfaatkan waktu luang yaitu sore hari dan pada hari-hari libur seperti hari sabtu, minggu, dan hari-hari besar.
       Permainan anak (kaulinan barudak) dalam permainannya dibagi menjadi permainan perorangan dan beregu. Permainan perorangan adalah jenis permainan yang dilakukan perorangan atau perindividu. Jenis permainan ini tidak membutuhkan kerjasama dan kekompakan. Tapi yang dibutuhkan adalah keterampilan, keahlian, kecekatan, ketepatan, dan keakuratan. Sedangkan jenis permainan beregu sangat mengandalkan kerjasama, kekompakan, dan strategi. 
        Awal permainan biasanya dilakukan pemilihan siapa yang harus main duluan. Pemilihan dapat dilakukan dengan hompimpah, sut, atau dengan melemparkan koin. Permainan baru selesai apabila mereka sepakat untuk berhenti atau istirahat atau sudah mendapatkan pemenangnya.. 
       Karena permainan ini bersifat kolektif sehingga akan didapatkan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini, di antaranya adalah memupuk keterampilan, kebersamaan, gotong royong, sportivitas, kejujuran, dan tanggung jawab. Permainan anak ini selain menyenangkan juga menyehatkan dan menguatkan otot serta kesabaran dan tenggang rasa.
Kukudaan
       Permainan kukudaan termasuk permainan beregu tapi tidak dipertandingkan atau dilombakan, pemainnya  ada pemain yang menggendong, pemain yang digendong, dan pemain lepas; artinya tidak dalam posisi menggendong atau digendong. Posisi mereka bergantian saling menggendong yang ditentukan dengan hompimpah atau bergantian setelah menempuh jarak tertentu.   
         Formatur permainan kukudaan adalah bagian depan adalah pemain lepas, kuda adalah pemain yang menggendong, penumpang adalah pemain yang digendong, dan bagian belakang adalah pemain lepas.
Perepet Jengkol
       Permainan perepet jengkol termasuk permainan perorangan. Permainan ini dimainkan oleh beberapa orang dengan posisi sebelah kaki menapak dan sebelah lagi diangkat ke belakang kemudian dilipatkan dengan kaki pemain lain sehingga tampak terikat kuat dan tidak lepas. Setelah itu mereka berputar dengan cara kaki yang menapak melompat-lompat. Sambil bersiul atau bernyanyi dengan syair: perepet jengkol jajahean, kadempet kontol jejeretean. Syair itu terus diulang-ulang sampai ada yang terlepas. Pemain yang menang posisinya tetap kaki sebelah menapak dan sebelah lagi melipat pada kaki pemain lain. Pemain yang lepas kakinya dari lipatan dialaha yang kalah.

       

Rabu, 04 September 2013

Berlibur ke Taman Paku Haji

  
Bermain Jembatan Apung
        Taman Paku Haji terletak di Kota Administrasi Cimahi, Provinsi Jawa Barat, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tepat berada di sebelah Barat Kota Bandung ibu kota Provinsi Jawa Barat. Jarak dari Kota Bandung Ke Taman Paku Haji kurang lebih satu jam perjalanan kendaraan roda empat. Jika melalui tol Padaleunyi (Padalarang Cileunyi) dari Kota Bandung keluar di pintu tol Padalarang, belok ke kiri lurus sekitar 5 kilometeran belok ke kiri lagi lurus sekitar 2 kilometer, sampai lah ke tempat yang dituju, Taman Paku Haji.
 
Taman nan Asri Menyejukkan Hati
       Sepanjang jalan 2 kilometer sampai ke pintu gerbang Taman Paku Haji, kondisi jalannya rusak karena berlubang dan pengaspalan yang sudah rusak parah. Di sini perlu peran Pemerintah Daerah Kota Administrasi Cimahi agar segera memperbaiki akses jalan yang rusak ini. Di samping untuk mempermudah akses ke tempat wisata tadi, juga mempermudah mobilisasi masyarakat dalam percepatan pembangunan daerah.
 
Terminal Flying Fox
       Taman Paku Haji berada di dataran tinggi, karena letaknya di atas bukit. Dari tempat ini akan terlihat keindahan Kota Cimahi yang berada di bawahnya. Di tempat ini pula disuguhkan berbagai kreativitas agar para pengunjung betah dan dapat relaksasi dari kepenatan hiruk pikuk di kota.
 
Saung Istirahat Sekeluarga
       Udaranya yang sejuk, segar, dingin membuat orang ingin bertahan untuk tiduran agak lama di sana. Saking betahnya rasanya malas angkat kaki untuk pulang dari tempat tersebut. Selain disuhuhkan berbagai hiburan seperti ATV, menunggang kuda, memancing ikan, berenang, flying fox, beca mini, juga tersedia restoran yang cukup lengkap terutama menu makanan khas Sunda.
Pesona Arena Bermain Anak
       Di sebelah kanan saung dan restoran terdapat arena bermain buat anak-anak. Tempat ini menyuguhkan  berbagai permainan anak-anak yang dikemas dalam sebuah kelompok arena permainan yang berkaitan dengan nuansa air yang digemari anak-anak. 
Arena Berenang Anak-anak
       Kolam renang di desain untuk anak-anak dan remaja. Kolam renang dilengkapi dengan arena luncuran. Menmbah asyiknya anak-anak bermain.
Meluncur Terjun ke Kolam Renang
       Anak dilatih keberanian naik ke atas luncuran kemudian duduk meluncur ke arah kolam renang. Dengan spontan anak-anak yang meluncur menjerit dan tertawa riang gembira.
Jembatan Gantung dari Kayu
       Seusai berenang anak-anak dengan gembira menaiki jembatan kayu yang digantung dengan tambang plastik, sehingga bergoyang-goyang. 
Ketangkasan Menangkap Ikan
       Arena bermain lainnya adalah berlomba menangkap ikan mas. Sekelompok anak ikan mas di simpan di sebuah tempat, kemudian anak-anak menangkapnya dengan jaring kecil yang disedikan. Sehabis bermain menangkap ikan si anak akan diberi tiga ekor anak ikan mas.
Bangunan Restoran yang Adem
       Taman Paku Haji menyediakan tempat untuk makan yakni restoran. Di restoran ini disediakan berbagai makanan khas Sunda. Restoran di desain dengan gaya arsitektur khsusus sehingga nyaman dan sejuk. Di restoran ini pula disediakan mushola untuk salat.
Lapangan Sepak Bola
       Lapangan sepak bola yang cukup representatif disediakan bagi anak-anak atau remaja yang hobi bermain sepak bola. Arena sepak bola dengan rumput yang menghijau dan berada di atas bukit sangat menggiurkan.
Jalan-jalan di Arena Taman Paku Haji
       Jalan-jalan yang ditata rapi dan dihotmix mengundang pengunjung untuk berjalan-jalan mengitari taman yang cukup luas, hijau, dan sejuk ini. Udara di arena taman relatif bersih karena lalu lalang kendaraan sangat jarang.
Arena berbagai Permainan
Tempat Bermain Ayunan
       Disediakan pula berbagai arena permainan anak seperti ayunan, tangga besi, dan berbagai permainan anak lainnya yang akan membuat anak senang dan betah menikmati suasana ceria di Taman Paku Haji.

Kamis, 29 Agustus 2013

HARI  KEMERDEKAAN

        17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pada hari itu Indonesia mulai berbenah dan berdandan untuk mengurus negaranya sendiri. Selama 350 tahun Nusantara ini dijajah oleh kaum feodalisme yaitu Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang. Selama itu pula bangsa kita menderita, semua kekayaan dikuras untuk kepentingan dan kemakmuran para penjajah. Sementara nyawa-nyawa para pahlawan kita silih berganti berkorban untuk kebebasan dan kemerdekaan. 
         Kemerdekaan sudah 68 tahun, selama kurun waktu itu perlu dipertanyakan sejauhmana pengorbanan kita untuk memajukan bangsa dan negara. Sudahkah kita berperan dalam membangun bangsa, mencerdaskan bangsa, dan memakmurkan bangsa? Prinsip yang utama yang seringkali kita abaikan setelah pintu gerbang kemerdekaan terbuka lebar berkat Rahmat Alloh swt. melalui perjuangan para pahlawan dan pejuang kemerdekaan adalah tekad jangan sampai kembali negeri Indonesia tercinta ini dijajah oleh bangsa-bangsa yang serakah dan memaksakan kehendak. Jadilah bangsa yang mandiri, jadilah bangsa yang berperan dalam perdamaian dunia, jadilah bangsa yang teladan dalam mengurus berbagai sumber kekayaan negerinya sendiri.
           
      Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan berbagai cara dilakukan oleh masyarakat. Semua cara tujuannya adalah mensyukuri karunia Alloh swt. yang telah memberikan kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia. 
       Di pedesaan biasanya pada tanggal 17 Agustus diadakan upacara apel kemerdekaan. Begitu pula yang disaksikan ketika melakukan perjalanan ke daerah Wado Kabupaten Sumedang. Upacara apel kemerdekaan diselenggarakan dan dipimpin langsung oleh Bapak Camat. Tampak keramaian upacara apel kemerdekaan di Kecamatan Wado, Kecamatan Jatinunggal, Kecamatan Jatigede, Kecamatan  Cisitu, Kecamatan Darmaraja, dan kecamatan-kecamatan lainnya.
      Tampak rombongan demi rombongan yang merupakan perwakilan dari setiap desa. Mereka menuju dan  berkumpul di alun-alun kecamatan atau di lapangan yang besar untuk mengadakan upacara apel kemerdekaan.
       Terlihat sekali antusiasme dan semangat anak-anak, siswa sekolah, remaja, pemuda, dan orang tua berpawai dari desa menuju tempat apel. Berbagai hiasan dan bendera mereka pegang dengan senyum dan semangat.
       Selesai apel dan bubar ke tempat masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan berbagai perlombaan dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perlombaan marathon, bulu tangkis, sepak bola, tenis meja, panjat pinang, balap bakiak, balap kelereng, balap bendera, balap kerupuk, dan kemeriahan lainnya yang tidak dapat disebutkan di sini.
       Puncak acara biasanya ditutup dengan pemasangan panggung. Di tempat ini dilaksanakan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba, dilanjutkan dengan panggung hiburan dengan mengetengahkan tari-tarian dan seni warga yang dibimbing oleh Karang Taruna. Besoknya malam hari diadakan tabligh akbar dengan mengetengahkan Kiai atau Ustadz untuk memberikan siraman rohani kepada warga.  
       Kemerdekaan bangsa dapat diisi dengan berbagai cara dan kegiatan yang kondusif dengan tujuan untuk membangun dan memajukan bangsa dan negara. Namun, mengisi kemerdekaan ini jangan dinodai dengan budaya korupsi, kolusi, dan budaya nepotisme, karena jalan ini sudah dirasakan sangat merusak dan menghancurkan bangsa dan negara. Dengan katakan tidak untuk Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, berarti telah membangun bangsa ke arah maju.
      Jagalah negeri Indonesia tercinta dari kolonialisme atau penjajahan modern yaitu penjajahan dari segi pemikiran, penjajahan perekonomian, penjajahan teknologi, penjajahan ilmu dan pengetahuan, yang akan membuat bangsa jauh dari kemandirian dan selamanya di kendalikan negara lain. Semoga Tidak. 
Indonesia tetap maju. 
Merdeka. 
Semoga segalanya diridloi oleh Alloh swt. Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada tuhan selain Dia.




Kamis, 06 Juni 2013

Kasepuhan Cicarucub Lebak Banten


          Wilayah Kasepuhan Cicarucub berada di Desa Neglasari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak Provinsi Banten, Republik Indonesia. Keberadaan Kasepuhan Cicarucub sudah lima generasi. Kelima generasi ini merupakan estafet kepemimpinan Olot yang tinggal di Rompok Olot (Bumi Adat) sebagai ketua adat yang sekarang sudah yang kelima. Dari kelima generasi Olot yang menempati Rompok adat ini hanya dua yang diketahui namanya yaitu yang sekarang sesepuh adat, Olot Enjay dan satu generasi sebelumnya yaitu Olot Dulhana. Tiga olot sebelumnya tidak diketahui namanya, karena bagi warga menyebutnya itu adalah tabu atau sesuatu yang tidak boleh. Ketidaktahuan mereka terhadap ketiga nama olot terdahulu dikarenakan adanya kekhawatiran dari leluhur sebelumnya berkaitan dengan keselamatan pemimpin mereka. Karena berkaitan dengan prajurit atau pasukan khusus Kerajaan Pajajaran yang melarikan diri dari Pakuan Bogor ketika digempur habis-habisan oleh prajurit dari Banten dan Demak.     
Olot Enjay, Ketua Adat Kasepuhan Cicarucub
Wakil Olot atau Juru Basa
         Wilayah yang masuk ke dalam komunitas masyarakat Kasepuhan Cicarucub terbagi menjadi tiga daerah yaitu Kampung Cicarucub Girang, Kapung Cicarucub Tengah, dan Kampung Cicarucub Hilir. Ketiga kampung ini berderet dari arah Utara ke Selatan.
 
 Jalan Menuju Kasepuhan Cicarucub
           Kepercayaan atau sistem religi pada masyarakat Kasepuhan Cicarucub diwarnai oleh dua unsur yaitu agama dan kepercayaan terhadap nenek moyang. Mereka menganut agama Islam dan mereka juga masih mempertahankan dan melaksanakan kepercayaan warisan leluhurnya (nenek moyang). Kepercayaan tersebut direalisasikan kedalam adat istiadat masyarakat Kasepuhan Cicarucub yang khas. Agama dan kepercayaan terhadap leluhur menjadi pedoman hidup mereka sebagai warga masyarakat Kasepuhan Cicarucub. Kedua unsur tersebut berjalan harmonis dalam kehidupan sehari-hari.
            Ajaran Islam bagi masyarakat Kasepuhan Cicarucub diyakini kebenarannya sebagai pedoman hidup mereka. Mereka mengimani ajaran agama Islam serta merealisasikannya dalam kehidupan sebari-hari. Aktualisasi ajaran agama Islam dilaksanakan baik secara individu maupun secara kolektif. Pelaksanaan secara individu misalnya merka harus selalu berbuat kebaikan, mendirikan salat, mengaji, dan aktivitas keagamaan lainnya baik yag dilakukan di rumah maupun di masjid. Ibadah yang dilaksanakan secara individu merupakan ekspresi hubungan kedekatan antara pribadinya dengan Tuhan. Hal ini merupakan wujud tanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai pemeluk agama Islam.
           Masyarakat Kasepuhan Cicarucub memiliki konsep bahwa wilayahnya terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu wilayah mata air, tanah titipan, dan tanah tutupan. Wilayah mata air adalah sebuatan wilayah yang memiliki sumber mata air, yang sangat membantu sumber hidup sehari-hari warga kasepuhan. Wilayah ini sangat dijaga kelestarian dan keberadaannya oleh warga.
            Tanah titipan adalah tanah pemberian dari Ratu atau Karuhun, yang harus dijaga kelestarian lingkungannya, tidak boleh dieksploitasi oleh siapapun tanpa seizin Olot. Penggunaan tanah ini dapat dilakukan jika mendapatkan wangsit dari karuhun yang diterima Olot. Tanah titipan harus dimumule (dipelihara), jangan dirusak. Atas seizin Olot di tanah titipan ini warga bisa membangun rumah, asal tetap merujuk pada ketentuan-ketentuan adat yang berlaku.
            Tanah tutupan adalah tanah milik pemerintah (perhutani), berupa hutan lebat yang ditutupi pohon-pohon besar dan kecil. Kawasan ini merupakan kawasan cagar alam yang harus dijaga kelestarian lingkungannya. Tanah yang dilindungi, milik Taman Nasional Gunung Halimun yang merupakan atau dijadikan konservasi air.
            Masyarakat Kasepuhan Cicarucub memiliki pola-pola dalam menata perkampungannya. Pola perkampungannya berkaitan erat dengan unsur-unsur kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya.
            Pola perkampungan masyarakat Kasepuhan Cicarucub sangat unik. Rumah-rumahnya tersusun dari arah utara ke Selatan secara berlapis-lapis, dan yang menjadi pusat adalah Bumi Karuhun atau lebih dikenal dengan sebutan Rompok Adat, yaitu rumah tempat tinggal sesepuh adat atau Olot dan rumah tempat tinggal Juru Basa. Rumah-rumah di wilayah Kasepuhan Cicarucub ini harus menghadap arah Timur-Barat. 
            Rompok Adat pertama yang ditempati Olot bangunannya lebih besar dibandingkan dengan bangunan yang kedua serta berada dalam sebuah area yang berhalaman luas, dengan dibatasi pagar terbuat dari bambu di sekelilingnya. Halaman atau buruan yang luas tersebut dalam keseharian digunakan untuk menjemur hasil budidaya pertanian, pakaian, bermain anak-anak. Namun pada saat-saat tertentu digunakan pula untuk berbagai upacara adat. Buruan Rompok Adat digunakan secara maksimal untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Misalnya upacara Seren Taun yang biasa dilaksanakan setahun sekali dan merupakan puncak acara adat bagi warga kasepuhan sebagai masyarakat agraris.
 
Rompok Adat yang didiami oleh Olot
            Rompok adat kedua yang ditempati juru basa berada di sebelah Barat, di area yang lebih rendah dari area Rompok Adat Olot, sehingga jika akan menuju ke sana harus menggunakan jalan tangga yang menurun. 
            Sementara itu rumah warga yang berada di area yang lebih rendah lagi dari Rompok Adat Juru Basa dibagi dalam dua lapis atau kategori. Lapisan pertama dengan arah ke sebelah Selatan dari Rompok Adat yang hanya dibatasi oleh jalan kecil atau gang sampai saluran air yang menuju ke Cai Ageung. Wilayahnya dari batas kali Cibitung ke arah kali Cimanganten. Pada lapisan ini rumah-rumahnya harus panggung; tidak boleh menggunakan atap genting; lantai rumah tidak boleh ditembok, kecuali bagian luar rumah atau teras. Masin

g-masing rumahnya pun di dalamnya tidak boleh ada tempat buang air (kecil maupun besar). Jadi, mereka menggunakan bahan-bahan seperti seng, bambu, kiray, dan kayu untuk membuat rumah. Adapun untuk buang air kecil dan besar mereka pergi ke empang atau kolam. Cai Ageung adalah solokan agak besar atau sungai kecil di hilir (di sebelah kulon ’Barat’), tempat menyatunya aliran air dari solokan-solokan kecil atau saluran-saluran pembuangan air warga.
            Pada rumah lapisan pertama ini, pemilik rumah boleh melengkapi rumahnya dengan penerangan listrik, televisi, parabola, dan jendela berkaca. Jadi, dapat dikatakan rumah pada lapisan pertama merupakan rumah-rumah pada masa transisi. Artinya, sebagian harus mempertahankan adat istiadat karuhun, sebagian lagi sudah mendapatkan kelonggaran. Warga menyebut rumah semi permanen tersebut dengan sebutan imah biasa.
          Lapisan kedua dengan arah Selatan dari lapisan pertama saluran air hingga ke Cai Ageung, batasannya kali Cibitung-Kali Ciratra. Warga pada lapisan ini diberi kebebasan dalam membangun rumah, seperti halnya masyarakat pada umumnya. Jadi rumah-rumah warganya boleh beratap genting, seng, papan, kayu teureup, bangunannya bertingkat, memiliki peralartan elektronik, bahkan kendaraan beroda empat. Warga menyebut rumah permanen tersebut dengan sebutan gedong. Tak heran, di wilayah ini rumah panggung dianggap sebagai rumah orang yang kurang mampu. Jumlah rumah pada lapisan kedua ini ada 15 (lima belas) buah. Jika kemudian ada warga yang ingin membangun rumah, Olot akan mengizinkan. Itupun jika masih ada lahannya dan arsitektur bangunan rumahnya harus bentuk asli.
            Wilayah Kasepuhan Cicarucub pun memilik pemakaman umum. Menjadi suatu ketentuan adat, letak pemakaman ini harus berada di sebelah Timur dan Barat Rompok Adat. Sama halnya dengan letak dan posisi rumah warga tidak boleh dibangun di sebelah Timur Rompok Adat. Posisi demikian disebut ngalangkangan ’melangkahi’. Ngalangkangan merupakan suatu hal yang ditabukan bagi masyarakat Kasepuhan Cicarucub. Jika dilanggar, maka kehidupan pelanggarnya dipercaya akan selalu mengalami kesulitan. 
 Kumpulan Leuit di Cicarucub Girang
            Selanjutnya leuit, sebagai tempat penyimpanan padi, letaknya tidak di lingkungan rumah warga tetapi di suatu tempat dan berkelompok. Sekaligus di sana pun terdapat lesung ’alat untuk menumbuk padi’, yang biasa digunakan para ibu secara bersama-sama. (Diambil dari berbagai sumber).

Oleh-oleh dari Sukabumi


         Sukabumi termasuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat, Republik Indonesia. Wilayah ini berada di sebelah Barat dari ibu kota Provinsi Jawa Barat, Bandung. Dari Bandung ke Sukabumi dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam.
          Masyarakat Sukabumi mayoritas beretnis Sunda dengan menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Sunda. Bahasa Sunda digunakan sebagai bahasa pengantar sehari-hari dalam pergaulan. Sukabumi seperti daerah lainnya di Indonesia memiliki khasanah kebudayaan yang relatif banyak misalnya dalam kesenian ada kesenian Kacapi Suling, Lisung Ngamuk, dan sebagainya. Di wilayah ini pun ada batik khas Sukabumi yang disebut Batik Kasukabumian, selain itu, Sukabumi terkenal dengan salah satu pantainya, pantai Pelabuhan Ratu. Di Kabupaten Sukabumi pun terdapat masyarakat adat seperti masyarakat adat Sirnaresmi, Cisungsang, Cipta Mulya, dan sebagainya.    
          Ketika berjalan-jalan ke Sukabumi ditemui beberapa home industri seperti home industri pembuatan moci; makanan khas Sukabumi yang terbuat dari tepung tapioka dan gula. Home industri pembuatan dan penjualan batik, dan perajin handicraft; pembuatan berbagai cenderamata dan peralatan rumah dari paralon.
          Produksi Batik Kasukabumian belum begitu lama, artinya para perajin batik di Sukabumi muncul sekitar tahun 2000-an. Begitu juga jumlah perajinnya belum begitu banyak, sedangkan harga kain yang dipasarkan di showroom-showroom harganya berkisar Rp 100.000,- sampai Rp. 1.000.000,-
 
Motif-motif Batik Kasukabumian
          Handicraft adalah istilah bagi perajin berbagai cenderamata dan peralatan rumah tangga yang dibuat dari bahan paralon yang dibakar. Konon kerajianan ini di Kabupaten Sukabumi baru satu yaitu di Ilham Art Handicraft. Sebagai perajin satu-satunya yang bergerak dalam kerajinan dari bahan paralon yang dibakar, Ilham, sering menjadi pembicara baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Ia sering bolak balik ke Yogjakarta, Kalimantan, dan sebagainya. Bahkan ada beberapa daerah yang ingin diminta agar dapat memberikan pendidikan dan latihan dalam pembuatan kerajinan dari paralon ini. Namun tawaran tersebut belum ada yang dikabulkan. (Diambil dari berbagai sumber).
 
Home Industri Perajin Handicraft

 Beberapa Hasil Kerajinan Handicraft

Minggu, 02 Juni 2013

Leuit...Lumbung Padi Masyarakat Sunda


             
        Leuit atau dalam istilah umum disebut `lumbung' adalah bangunan tradisional yang diperuntukan untuk menyimpan padi hasil pertanian. Dengan demikian  leuit terdapat pada kebudayaan masyarakat agraris. Leuit adalah sebuah fenomena budaya yang memiliki kompleksitas cukup rumit. Ditilik dari wujud fisiknya, leuit hanyalah sebuah bangunan yang sangat sederhana, baik bentuk, bahan bangunan, maupun teknologi pembuatannya. Akan tetapi dibalik itu, ternyata terdapat seperangkat pranata sosial budaya serta konsep-konsep ideasional masyarakat pemiliknya yang mencerminkan bentuk masyarakat bagaimana yang diidamkan oleh masyarakat. Dengan kata lain dalam fenomena leuit tersirat sistem nilai budaya (cultural value sistem) masyarakatnya. Itu pula sebabnya kenapa fenomena leuit ini masih tetap bertahan dan dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya hingga kini.
 Letak Leuit  Di Luar Perkampungan
       Menurut sejarahnya,  leuit sudah ada jauh sebelum sistem pertanian sawah dikenal di daerah Jawa Barat, yaitu ketika masyarakat Sunda masih menggunakan sistem pertanian huma (ladang).
Di kalangan masyarakat pedesaan khususnya masyarakat adat dan masyarakat kampung adat terdapatnya banyak leuit. Hampir setiap penduduk memiliki leuit. Keberadaan leuit menjadi bagian utama dari kehidupan mereka sebagai masyarakat petani.
      Pada umumnya keberadaan leuit pada komunitas adat, sangat berkaitan dengan sistem kepercayaan  mengenai mitos Dewi Sri atau Nyi Pohaci. Selain itu,  padi hasil panen tidak bisa langsung diolah menjadi beras (harus melalui suatu proses, seperti penjemuran, penumbukkan) sehingga diperlukan suatu tempat yang dapat menampung dengan baik dan aman.
       Pada masyarakat komunitas adat, padi yang disimpan di leuit menyebabkan leuit tidak hanya berfungsi sebagai “gudang” tempat penyimpanan padi melainkan menjadi suatu yang lebih penting dalam tahapan aktivitas pertanian mereka. Hal ini dapat dilihat dari adanya adat kebiasaan yang berkaitan dengan leuit. Kaidah adat selain sebagai suatu usaha untuk mempertahankan hubungan kekerabatan dengan para nenek moyang (karuhun), juga memperkuat hubungan antar sesama warga  dengan solidaritas kelompok yang terbina setia saat.
Letak Leuit agak Jauh dari Perkampungan 
       Bentuk bangunan leuit pada komunitas adat tidak terlepas dengan alam lingkungannya. Oleh karenanya,bangunan leuit ini hampir sama dengan bentuk rumah orang Sunda yang tinggal di pegunungan, yaitu panggung.  Bentuk bangunan panggung dimaksudkan padi yang berada di dalamnya agar tidak cepat basah/lembab karena adanya sirkulasi udara di bawah bangunan leuit, (kolong leuit) bisa menghangatkan melalui celah-celah dadampar. Selain itu, bentuk leuit yang panggung ini pada mulanya dimasudkan agar tidak diganggu oleh hewan liar,seperti bagong (sus vitasus).
            Bentuk atap leuit adalah salah satu bentuk atap susuhunan panjang yang biasa disebut dengan atap garuda ngupuk, yaitu pertemuan kedua belah atap kiri-kanan badan leuit menutupi lebih panjang rumah, sehingga ujung atap rendah dari tanah dan puncak atap membentuk sudut yang lancip. Atap leuit ini biasanya terbuat dari injuk atau kiray. Menurut Heinz Frick (1988), atap dari injuk mempunyai sifat sifat tahan terhadap air serta tahan lama sampai lebih kurang 10 tahun.
       Rangka dinding ruang penyimpanan untuk ke empat sisinya terdiri dari tiang tengah dan palang palang yang berfungsi untuk menempelkan bilik dari bagian dalam. Pemasangan bilik dilakukan dari bagian dalam dengan tujuan untuk menjadikan permukaan  ruang penyimpanan relatif rata.  Pada sisi tihang dan cangkok handap biasanya ditempel dengan palipit yang berfungsi memperkuat  bilik dari gangguan hama tikus.  Bentuk bangunan leuit yang menurut istilah lokal adalah bentuk sikat (seperti wadah) dan bentuk atap yang lancip menyebabkan air hujan yang jatuh tidak akan membasahi dinding leuit bagian bawah.
 
Bentuk Leuit seperti Sikat (Limas)
         Dadampar (lantai) yang merupakan bagian penyangga beban padi yang disimpan di leuit, mempunyai konstruksi rangka yang cukup kuat dan kokoh dengan pemasangan dua balok bantalan tengah memanjang dari depan ke belakang (pameot) serta dua balok  bantalan tengah yang memanjang dari kiri ke kanan (cangkok handap).  Selain itu, ditambah dengan dua buah balok bantalan yang berada di tengah- tengah (pananggeuy) yang diperkuat oleh dua buah batu (deudeul) di tengah-tengah panangeuy.   Dadampar (lantai leuit yang terbuat dari papan kayu) sebagai penutup lantai dipasang menumpang pada cangkok handap, pameot, dan pananggeuy memanjang dari depan ke belakang. Dipasang cukup rapat sehingga tidak terdapat celah di antaranya.
       Bagian terbawah leuit disangga dengan umpak untuk meneruskan beban bangunan leuit dan beban padi yang disimpan di leuit ke tanah. Selain itu, bagian umpak ini dimaksudkan agar  bagian tiang tidak bersentuhan dengan tanah sehingga tiang kayu tidak terkena rinyuh (hama kayu). Semua material bangunan leuit pada bagian ruang penyimpanan ini menggunakan kayu yang kemudian dipoles dengan kapur cikur yang dimaksudkan agar kayu tidak cepat rapuh oleh rinyuh (hama kayu).
          Fungsi utama leuit adalah tempat penyimpanan gabah (padi yang sudah kering). Namun demikian leuit yang kental dengan kehidupan masyarakat petani pedesaan memiliki fungsi lain, yaitu fungsi sosial, fungsi ritual, dan fungsi ekonomi.
       Fungsi sosial, leuit sangat berperan ketika  masyarakat mengalami masa paceklik atau kekurangan pangan. Saat itu leuit berperan dalam memenuhi katersediaan bahan pangan bagi masyarakat setempat. Warga yang kekurangan bisa meminjam kepada leuit adat, kelak setelah panen warga yang berutang akan mengembalikan padi pinjamannya ke leuit
Fungsi ritual, berkaitan dengan keberadaan leuit yang berperan dalam menjaga adat istiadat dalam konteks kebudayaan setempat. Misalnya, dalam kepercayaan setempat Dewi Sri atau Nyi Pohaci diyakini sebagai Dewi Padi yang harus disikapi dan diperlakukan secara istimewa.  
Fungsi ekonomi, leuit oleh masyarakat dijadikan tempat untuk menyimpan padi, adakalanya padi  dibiarkan sebagai tabungan. Setelah lebih dari satu tahun, padi kemudian dikeluarkan dan dijual. Hasilnya digunakan untuk berbegai keperluan yang mendesak dan sangat penting. (Diambil dari berbagai sumber).